Sunday, April 10, 2016

Kalo Tahu Emprit Bangla Itu Beracun, Kenapa Dicoba?




Ini kisah dimulai saat seorang TKW bernama Sumi baru bekerja di Singapore. Baru beberapa bulan di Singapore dia sudah memperlihatkan perubahan drastis.

Dulu dirumah penampilannya pas-pasan. Pas di dompet, pas di pigura, pas untuk diajak belanja di pasar pinggiran kota. Soal trend dia amat sangat jauh dari kata kekinian. Rumahnya di pinggiran sawah dekat sungai besar.

Kalo sekarang dia di Singapore hiburannya banyak, kalo dirumah hiburannya lebih banyak lagi. Abis ujan hiburannya katak konser, capek dari sawah hiburannya televisi, kalo malam lagi mood hiburannya pijit-pijitan sama suami.

Kerja jadi TKW memang lama-lama terasa enak baginya dan nyaman. Kerjaan nggak usah ditanya apa, tanya aja temen kamu yang di Singapore kerjaan yang paling enak apa ya itu kerjaan si Sumi ini.

Sekarang dia makin gaul, genap 6 bulan di Kota Singa dia sudah bisa mengikuti trend masa kini. Daya tahan tubuhnya lebih baik dari pada di kampung halamannya. Di sana dia pakai baju serba pas alias serba ketat nggak masuk angin.

Rambutnya sudah bisa berkibar dengan warna yang bisa dia ganti sesukanya.



Bulan berganti bulan dia mulai lupa dengan niatnya bekerja di luar negeri. Dia mulai tidak betah hidup di kampung halamannya. Pulang sebentar berangkat lagi, pulang sebentar berangkat lagi. Untung dia nggak seperti Bang Toyib yang nggak pulang-pulang.

Di rumah dia juga nggak pernah lepas dari Hape, jalan dikit cepret, maju dikit cepret, mundur dikit cepret. Kasihan....padahal suami dan anaknya belum makan dari pagi.

Berfoto memang selalu menjadi ritual rutin yang harus Sumi lakukan tiap hari. Dan ternyata sekarang dia sudah kenal sama Bangla.

Wiiiiihhhh....mentang-mentang udah cantik dia mulai lupa daratan, tiap cowok baru yang nge add FB nya selalu dia konfirmasi pertemanan. Apalagi cowok yang cakep-cakep langsung dia balas tiap inboxnya.

Sampai suatu ketika dia kenalan sama mas yang hitam manis bernama Nongol Bar Crit.

Kenalan dan terus chat, dan chat sampe hape ganti beberapa kali karena rusak. Kalo dihitung udah habis 5. Yang 2 rusak gara-gara keseringan telpon sama mas Bar Crit, yang 1 nyemplung ke dalam mesin cuci, yang 2 nyemplung kolam sekalian orangnya gara-gara keenakan chat sama mas Bangla.

Akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu. Tanpa basa basi mereka jadian. Cie yang mengulang masa lalu tapi lupa sama anak dirumah.

Tak butuh waktu lama untuk nggending (merayu) akhirnya mas Bar Crit tadi mengajak si Sumi untuk jalan-jalan untuk melihat emprit.



Sepertinya sih seru, jalan-jalan lihat burung mumpung jauh dari rumah bisa main sama mas-mas muda meskipun item tapi lebih tinggi dan lebih mancung dari suaminya dirumah.

Nenek bilang kalo berduaan itu berbahaya, bisa-bisa terjadi sesuatu.

Mereka semakin mesra dan sering upload foto mesra di FB. Untungnya orang-orang rumah gaptek tingkat akut jadi nggak akan ketahuan kalo Sumi punya gandengan di Singapore.

Makin-lama perkataan Nenek akhirnya terbukti.

Si Sumi keracunan...sumpah si Sumi benar-benar keracunan. Terlalu sering berduaan sama Mas Bangla Nongol Mak Crit itu perutnya buncit.

Katanya orang-orang sih dia terkena patuk ular Bangla.

Perkataannya di sosmed beberapa waktu yang lalu yang menjelekkan cowok katanya "titit cowok Indo kecil-kecil" akhirnya sekarang berubah menjadi "aku keracunan emprit Bangla".

Tuh kan dibilang juga apa, makanya kalo kerja yang bener. Mentang-mentang udah terkenal di kalangan Bangla sampe lupa daratan.

Emang sih terbang tinggi abis itu ancur...

Sekarang dia tak berani pulang ke kampung, hingga 10 tahun lamanya tanpa kabar. Sampai-sampai fotonya muncul di halaman depan koran Indonesia

"TKW Tak Berani Pulang Karena Emprit Bangla"

Hehehe....mohon maaf kalo ceritanya ini ada kemiripan dalam kehidupan nyata temen-temen. Bukan sebuah kesengajaan dariku, semoga bisa penyemangan bagi temen-temen kalo emprit Bangla itu emang nggak enak. Lebih enakan empritnya suami dirumah.

Cerita ini titipan dari saudaraku, maaf bahasanya agak ngawur

0 comments

Post a Comment

close